Close

Percepatan Musim Tanam Tidak Bertentangan Dengan Adat Nugal

DISKOMINFOSTANDI, MAHULU – Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Mahakam Ulu Yustinus Ibo Ului melihat percepatan kalender musim tanam yang dicetus oleh Bupati Mahakam Ulu Bonifasius Belawan Geh, sama sekali tidak bertentangan dengan ritual adat yaitu adat nugal, karena kita hanya menambah musim tanam dalam satu tahun.

Acara Adat Hudoq yang selalu dilaksanakan setiap tahun, seusai bercocok tanam padi

“Menurut kami, konteksnya meningkatkan volume musim tanam bagi masyarakat, dan ini tidak bertentangan dengan ritual adat, dalam hal ini adat nugal, karena kita menambahkan musim tanam ini bisa menjadi dua atau tiga kali dalam setahun,” ungkap Yustinus saat diwawancarai oleh Tim Diskominfostandi seusai mengikuti rapat pembahasan Percepatan Kalender Tanam Dalam Rangka Penanggulangan Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Ekonomi dan Ketahanan Pangan Masyarakat Di Kabupaten Mahakam Ulu, yang dilaksanakan di ruang rapat Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D), Selasa (20/5).

Lebih jauh dikatakannya, memang sebelumnya kami pernah melakukan, uji menanam cepat ini, yang bertujuan mengantisipasi musim paceklik bagi masyarakat, namun kurang berhasil karena diserang hama khususnya burung pipit, namun apabila ditanam secara serentak se-Kabupaten Mahakam Ulu maka konsentrasi hama akan terpecah sehingga sangat yakin sekali kegiatan percepatan tanam akan berhasil.

Yang harus kita perhatian, apabila dalam kondisi tidak normal seperti saat ini, sangat tidak diragukan lagi pada saat musim paceklik tidak ada pasokan beras dari mana-mana, sehingga antisipasinya dibuat ladang kecil. Masyarakat diajak untuk menanam benih padi satu kaleng atau satu setengah kaleng, sehingga dapat memberikan sumber makanan sebelum panen ladang besar, sehingga masyarakat tidak putus kebutuhan pangannya.

Ditambahkannya, hal ini kami sambut baik dan akan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, karena hal ini bukan melakukan perubahan musim tanam akan tetapi meningkatkan produktivitas tanaman pangan ini, yang bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat secara umum.

“Kami menilai ini tidak bertentangan dengan ritual adat dan seterusnya. Kita juga berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung pada masa COVID-19d saja, namun dapat berlanjut seterusnya sehingga kita dapat swasembada beras,” pinta Yustinus.

Himbauan kepada masyarakat Mahakam Ulu, Yustinus mengajak untuk dapat melaksanakannya dan ini kita menilai merupakan langkah dan upaya ini adalah baik.

“Jadi saya mengajak masyarakat kampung, kecamatan dan pemerintah kabupaten untuk turut serta dalam melaksanakan kegiatan ini, dan kita ikut serta dalam mengangkat derajat kehidupan para petani ini melalui peningkatan volume musim tanam ini,” himbaunya. (Alex/AI)

Related Posts